Loading icon
Suami Yang Zalim Pada Istri

Suami Yang Zalim Pada Istri

Share:

JURNAL PALOPO- Tak hanya seorang istri yang dapat durhaka pada suami. Seorang suami juga bisa menjadi durhaka pada istri, apabila tidak penuhi tanggung jawab pemimpin dalam rumah tangga.

Baca Juga: Tiga Hal yang Boleh Disembunyikan Istri dari Suami Menurut Islam, Termasuk Kemaksiatan. Dalam Islam, seorang suami dituntut untuk selalu melindungi, mendidik, dan memperlakukan istrinya dengan baik serta menjadi kepala rumah tangga yang sesuai syariat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam pernah bersabda: “Yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik akhlaknya atau perlakuannya terhadap istrinya.” (HR. Namun, tak jarang saat ini didengar dan disaksikan ada suami yang mendurhakai istrinya.

Baca Juga: Waspadai Dosa Suami yang Buat Istri Menangis, Lestari Azzahra: Percuma Kalau Dia Baik Kepada Orang.

Penyelesaian Perceraian dengan Khulu’ dan Akibat Hukumnya

Penyelesaian Perceraian dengan Khulu’ dan Akibat Hukumnya

Pengadilan Agama Blitar:. Imam Bonjol No.42, Kec.

Sananwetan, Kota Blitar 66131. Telp: (0342) 801296.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Hadits Suami Menyakiti Istri: Sebuah Renungan untuk Para Suami

Hadits Suami Menyakiti Istri: Sebuah Renungan untuk Para Suami

Hadits Suami Menyakiti Istri – Seperti yang kita semua tahu bahwa laki-laki memang ditakdirkan untuk menjadi seorang kepala keluarga. Seorang istri adalah anak yang rela meninggalkan rumah orang tuanya dan bersedia untuk hidup bersama suami.

Saat suami berbuat zalim kepada istrinya, maka dia telah melakukan dosa yang amat besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari api neraka. Jangan hanya mengingat sisi buruknya saja, tapi ingatlah juga kebaikan seorang istri yang sudah merawatmu, menghidangkan makanan di atas meja, mencuci pakaianmu, serta mendidik anak-anakmu.

Semua hal sudah diatur supaya umat muslim bisa hidup secara terarah dan diridhoi oleh Allah SWT, termasuk juga urusan rumah tangga. Sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa suami harus senantiasa berbuat baik kepada istrinya dan janganlah menyakiti hati istri.

”Rasulullah bersabda, seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya,” (HR.Abu Dawud no.1442 CD, Muslim, Ahmad, dan Thabrani). Namun, beban seorang istri seperti halnya mengandung, melahirkan, membesarkan anak, dan juga mengurus suami serta semua urusan rumah tangga tidak bisa tergantikan oleh apapun.

10 Dosa Suami Kepada Istri yang Bisa Menjatuhkannya ke Neraka

10 Dosa Suami Kepada Istri yang Bisa Menjatuhkannya ke Neraka

Banyak hal yang luput dari pandangan pasangan, karena merasa jika sudah menafkahi keluarga, kewajibannya telah terpenuhi. Melansir ayahbunda.my.id, berikut 10 dosa yang banyak dilakukan para suami karena mengabaikan kewajibannya kepada sang istri:. Suami yang ahli dalam pekerjaannya, memberikan uang belanja, dan memenuhi berbagai kebutuhan istri mungkin banyak.

”Rasulullah bersabda, seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya,” (HR.Abu Dawud no.1442 CD, Muslim, Ahmad, dan Thabarani). Rasulullah telah mengingatkan kepada suami untuk tak membenci istrinya, apalagi jika istri adalah seorang yang beriman, sebagaimana bunyi hadis berikut:.

Tidak sedikit suami yang enggan membantu pekerjaan di rumah, karena merasa sudah lelah bekerja. Ataupun bisa juga suami membeberkan tentang kondisi sang istri saat berhubungan kepada orang lain.

Syarat penting bagi suami jika ingin melakukan poligami adalah bersikap adil terhadap setiap istrinya. Bahkan Allah SWT memperingatkan kepada suami, jika memang takut tak bisa berlaku adil maka cukup nikahi seorang saja.

Ciri Suami Durhaka Terhadap Istri Menurut Islam

Seorang suami dituntut untuk bisa mendidik, melindungi, serta selalu menegakkan kebenaran dalam kehidupan rumah tangganya. Lalu bagaimana jika suami melimpahkan kewajiban seperti mencari nafkah dan mengatur segala urusan rumah tangga kepada sang istri? Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222 telah dijelaskan tentang dilarangnya seorang suami yang menggauli istrinya kala istri sedang haid :.

Sementara larangan menyetubuhi istri lewat dubur adalah berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang artinya:. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melarang para suami untuk menyakiti serta menjelek-jelekkan, atau bahkan membanding-bandingkan istri dengan wanita lai dengan menggunakan kata-kata dan ucapan yang bertujuan untuk merendahkan martabat sang istri baik di hadapannya sendiri atau di hadapan orang lain. “Dari mu’awiyah Al-Qusrayiri,ia berkata:”saya pernah datang kepada Rosulullah saw.’ Ia berkata lagi:’saya lalu bertanya:’Ya Rosulullah,apa saja yang engkau perintahkan(untuk kami perbuat)terhadap istri-istri kami?’Beliau bersabda:’…janganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekan mereka.’” (HR. Seorang suami yang sudah bosan dengan istri karena berbagai alasan seperti memiliki wanita idaman lain, bisa saja selalu berusaha mencari-cari jalan agar ia segera dapat bercerai dari istrinya.

ISTILAH-ISTILAH PENTING DALAM BERPERKARA CERAI Di Peradilan Agama – PENGADILAN AGAMA SERUI

ISTILAH-ISTILAH PENTING DALAM BERPERKARA CERAI Di Peradilan Agama – PENGADILAN AGAMA SERUI

Tidak bisa dipungkiri, setelah terbitnya surat Badilag Nomor 1669/DJA/HK.00/5/2021 tentang “Jaminan Pemenuhan Hak-hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian” tertanggal 24 Mei 2021, tidak sedikit dari masyarakat pencari keadilan menjadi bingung dan bertanya-tanya tentang istilah-istilah “baru” yang terdapat dalam blanko gugatan maupun permohonan yang mereka terima dari petugas PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu). Selama ini, istilah yang mereka dengar pada umumnya di lembaga peradilan agama hanya seputar talak, akta cerai, persidangan, sumpah, hingga saksi-saksi. Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengetengahkan sebuah pepatah Arab yang berbunyi: من عرف لغة قوم سلم من مكرمهم “Barangsiapa menguasai bahasa suatu kaum, maka ia selamat dari tipu daya mereka.” Dengan mengetahui makna atau maksud istilah-istilah hukum tersebut, diharapkan pada jalannya proses berperkara, mulai dari pendaftaran hingga status putusan berkekuatan hukum tetap, tidak ada lagi kekeliruan atau kekaburan makna, yang seringkali membuat masyarakat pencari keadilan menjawab/mengisi secara “ngasal/ngawur”.

Untuk melengkapi dan lebih memaksimalkan bobot tulisan ini, maka berikut penulis jelaskan beberapa istilah-istilah penting yang sering dijumpai oleh para pencari keadilan, khususnya dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Serui. Jadi, mediasi dapat dikatakan sebagai perundingan antara para pihak berperkara yang ditengahi oleh seorang Mediator untuk mencapai perdamaian atau kesepakatan-kesepakatan tertentu. Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qobla al dukhul.

Adapun jika pada persidangan ternyata salah satu pasangan/lawan tidak hadir, maka yang dihitung adalah 14 hari setelah putusan itu disampaikan kepada pihak lawan, baik lawan anda berada dalam wilayah yurisdiksi Pengadilan Agama Serui (Kabupaten Kepualauan Yapen dan Kabupaten Waropen), maupun yang berada di luar wilayah yursdiksi tersebut, seperti pulau Jawa, Sulawesi, dan seterusnya. [12]Pasal 149 KHI huruf (d); Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun. Angka (2) berbunyi; Bagi peminta yang tidak berdiam dalam karesidenan tempat Pengadilan Negeri tersebut bersidang, maka lamanya tempo untuk meminta pemeriksaan ulangan dijadikan tiga puluh hari. [18] Pasal 131 KHI ayat (3)menyebutkan; Setelah keputusannya mempunyai kekuatan hukum tetap suami mengikrarkan talaknya di depan sidang Pengadilan Agama, dihadiri oleh isteri atau kuasanya.