Loading icon
Waktu Yang Dilarang Untuk Hubungan Suami Istri

Waktu Yang Dilarang Untuk Hubungan Suami Istri

Share:

JURNAL PALOPO- Dalam Islam terdapat waktu, yang dilarang untuk berhubungan badan antara suami istri. Islam juga mengajarkan, bahwa saat suami istri berhubungan badan, maka itu akan bernilai pahala. Tapi harus sesuai dengan aturan, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Baca Juga: Meninggal karena Covid-19 Tak Sembarang Dikategorikan Mati Syahid, Ini Beberapa Kriterianya. Dalam Islam, hal ini haram dilakukan saat suami istri berhubungan badan. Hal ini sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya:.

Hubungan Suami Istri pada Waktu Ini Dilarang dan Ada Hukumannya, Dengarkan Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Hubungan Suami Istri pada Waktu Ini Dilarang dan Ada Hukumannya, Dengarkan Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

PRFMNEWS - Berhubungan suami istri merupakan sesuatu yang wajib dilakukan untuk mempererat ikatan suami istri tersebut, hal ini juga dijelaskan pada suroh Al Baqoroh atat 223. “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai.

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Tapi, ada waktu yang dilarang untuk melakukan hubungan suami istri dan ada denda tersendiri jika sudah melakukannya, yakni pada saat puasa di Bulan Ramadhan. Dilansir PRFMNEWS dari channel youtube Audio Dakwah, Ustadz Adi Hidayat mengatakan “jika ada orang melakukan kesalahan berhubungan suami istri di bulan Ramadhan, maka dilihat, melakukan itu dengan disengaja atau tidak disengaja.”.

“Jika disengaja maka ada 3 cara untuk menembusnya, yaitu membebaskan budak, memberikan makan 60 orang miskin, atau berpuasa 2 bulan secara berturut-turut,” lanjut ust. Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Sampaikan Hal ini Agar Doa Kita Cepat Dikabulkan. Alasannya dijelaskan dalam sebuah cerita zaman dahulu ketika seorang raja melakukan hubungan badan dengan istrinya di siang hari pada bulan Ramadhan.

Bolehkah Berhubungan Seks Saat Malam Takbiran Jelang Idul Fitri?

Bolehkah Berhubungan Seks Saat Malam Takbiran Jelang Idul Fitri?

Ada pula beberapa waktu yang dilarang untuk berhubungan seks dengan suami. Tentu salah satunya bukan berhubungan seks saat malam takbiran, tetapi ada kondisi di mana Bunda dan suami memang tak boleh melakukan aksi intim.

Salah satu waktu yang dilarang untuk berhubungan seks dengan suami ketika sedang haid. Waktu lain yang diharamkan untuk berhubungan seks adalah ketika siang hari saat puasa Ramadan. Bahkan Bunda harus membayar denda (kaffara) jika berhubungan intim dengan suami di siang hari saat bulan Ramadan. “Berdasarkan buku 'Fiqih Lima Mazhab' yang ditulis oleh Muhammad Jawad Mughniyah, hukum denda yang dimaksud bisa berupa berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberikan makan kepada orang miskin. "Abu Hurairah meriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lantas berkata, "Celakalah aku! Beliau kembali bersabda, "Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin.” (HR.

Waktu yang diharamkan untuk Bunda dan suami berhubungan seks yakni saat sedang ihram haji atau umrah. Sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 187, Allah SWT melarang kamu berhubungan seks ketika sedang i'tikaf di dalam masjid.

Malam 1 Suro Berhubungan Suami Istri, Halal atau Dilarang? Ini Pendapat Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu'

Malam 1 Suro Berhubungan Suami Istri, Halal atau Dilarang? Ini Pendapat Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu'

SUARAMERDEKA.COM - Benarkah berhubungan suami istri tidak dianjurkan atau dilarang dilakukan pada malam 1 Suro? Pendapat pertama datang dari ulama yang mengambil dasar kitab Ittihaf Sadat al-Muttaqin Syarh Ihya ‘Ulumiddin berikut:.

Sementara, pendapat tersebut dibantah oleh ulama fikih seperti Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’. Baca Juga: Malam 1 Suro, Berikut Ini 10 Ramalan Musibah hingga Kasus Artis di Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H.

“Dalil kami untuk menanggapi argumentasi semua pendapat di atas adalah seperti yang dikemukakan Ibnu al-Mundzir bahwa berhubungan badan hukumnya boleh karena itu kita tidak bisa melarang dan memakruhkannya tanpa dalil.”.

Ada Empat Malam yang Dilarang Berhubungan Intim Suami Istri

Ada Empat Malam yang Dilarang Berhubungan Intim Suami Istri

HaiBandung - Bagi pasangan suami istri, baik yang baru menikah maupun yang sudah lama, alangkah lebih baiknya mengetahui tata cara berhubungan intim yang dibenarkan maupun yang dilarang, menurut syariat Agama Islam. Berhubungan intim suami istri yang dibenarkan sesuai syariat, Insya Allah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda sekaligus bisa menggugurkan dosa. Berhubungan intim suami istri yang baik dan benar sesuai tuntunan agama, akan menghasilkan kenikmatan lahiriyah dan batiniah, bahkan bisa menghasilkan kebahagiaan rumah tangga yang samawa (sakinah, mawadah dan warohmah) serta kerukunan dan kemesraan pasangan. Jangan Melakukan Hubungan Intim Seperti Ini, Bisa Berakibat Fatal.

Selain akan mendapatkan kenikmatan biologis dan kepuasaan batin yang luar biasa, berhubungan intim suami istri yang baik dan benar pun, bisa menyehatkan badan. Sebaliknya, tata cara hubungan intim yang dilarang dan kurang baik dilakukan, justru bisa menimbulkan dosa dan efek negatif pada keturunannya. Termasuk pengaruhnya bisa membawa penyakit dan mengakibatkan rasa sakit di beberapa anggota badan. Dilansir HaiBandung.com dari buku berjudul "Sorga Dunia di Malam Pengantin" karangan Ustad Labib MZ, ada empat malam yang dilarang melakukan hubungan intim suami istri.

Baca Juga: Tujuh Orang Dilaknati Allah SWT, di Antaranya Cara Berhubungan Intim yang Dilarang Agama.

Waktu Makruh dan Haram dalam Hubungan Intim (4)

Waktu Makruh dan Haram dalam Hubungan Intim (4)

Ada pendapat yang mengatakan, bahwa makruh bersetubuh di tiga malam dalam bulan Islam. Dikatakan, bahwa kenyataan tersebut adalah mengikut pendapat Ali, Mu’awiah dan Abu Hurairah. Bila sebelumnya Aktual,com membahas tentang makruh, tentunya ada perkara yang haram dalam persetubuhan (jima atau bersenggama) yaitu,. Ada sebuah Hadis berkata, “Aku telah bertanya kepada ‘Aisyah tentang sesuatu yang boleh dilakukan seorang suami terhadap isterinya yang sedang Haid.” ‘Aisyah menjawab, Apa saja boleh, kecuali kemaluannya (bersetubuh).

Ada sedikit tambahan bahwasannya boleh mendatangi dari arah mana pun untuk bersetubuh, depan, tepi atau belakang, asalkan sasarannnya yaitu lubang faraj, dan bukannya lubang dubur. Dari Jabir B Abdulah berkata, bahawa orang-orang Yahudi (beranggapan) berkata, Apabila seseorang menyetubuhi istrinya pada kemaluannya melalui belakang maka mata anaknya (yang lahir) akan menjadi juling.

Bersetubuh (atau berjima) dengan isteri adalah satu ibadah dan mendapat pahala jika melakukannya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang dari kami mendapat pahala dalam melampiaskan syahwat ?.”.

Seperti mana sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Apabila di antara kamu telah mencampuri isterinya kemudian dia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah dia mencuci zakarnya terlebih dahulu.” (Hadis Riwayat Baihaqi). “Dengan demikian, maka akan terciptalah keharmonisan suami istri, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

Bagaimana Hukum Melakukan Hubungan Suami Istri di Malam Idul Fitri?

Hapunten sateu acana, abdi bade tumaros, naha leres dina malam lebaran dua (idaen) atau Idul Fitri sareng Idul Adha teu kengeng hubungan suami istri? (Mohon maaf sebelumnya, saya mau bertanya, apakah betul pada malam Lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, tidak boleh melakukan hubungan badan antara suami dan istri? Terkait pertanyaan penanya, berdasarkan fikih temuan saya, maka berhubungan suami istri pada malam hari raya atau malam lainnya adalah halal mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya seperti pihak istri dalam keadaan haid atau nifas (Al-Baqarah: 222), dalam keadaan berpuasa (Al-Baqarah: 187), atau sedang Ihram haji dan umrah (Al-Baqarah: 197). “Dalil kami untuk menanggapi argumentasi semua pendapat di atas adalah seperti yang dikemukakan Ibnu al-Mundzir bahwa berhubungan badan hukumnya boleh karena itu kita tidak bisa melarang dan memakruhkannya tanpa dalil. “Dikatakan bahwa bagus jika meninggalkan berhubungan badan pada malam awal bulan, pertengahan, dan akhir bulan, dengan disebutkan bahwa setan itu datang pada malam-malam tersebut. Namun ungkapan ini ditolak dengan sebab tidak adanya dalil yang tsabit sedikit pun, dan kewajiban membaca doa sebelum berhubungan badan itu akan dapat mencegah keburukan setan (Tuhfatul Muhtaj, Juz 3h.

Sementara jika menggunakan perspektif tasawuf, memang banyak riwayat yang menyatakan larangan hubungan suami istri pada malam hari raya, malam awal, tengah dan akhir bulan. ‘Makruh bagi seseorang berhubungan badan di tiga malam tiap bulannya yaitu awal bulan, pertengahan bulan, dan akhir bulan’, dikatakan bahwa setan hadir jimak pada malam-malam ini dan dikatakan bahwa setan-setan itu berjimak di malam-malam tersebut (Ittihaf Sadat al-Muttaqin Syarh Ihya ‘Ulumiddin, Juz. Pada malam hari raya juga seharusnya kita isi dengan takbir dan dzikir,.

“Makruh jimak di awal malam lalu ia tidur dalam keadaan tidak suci, sesungguhnya roh itu naik ke arasy, maka siapa di antara roh-roh itu yang suci tidak sedang junub dia diizinkan sujud di arasy, sementara roh yang sedang berjunub itu tidak diizinkan ke arasy” (Abi Thalib al-Makki, Qutul Qulub, Juz.